REFLECTION

One word: acceptance 🙂

Advertisements

REFLECTION

Sore ini saya mendapatkan kabar kebahagiaan tentang seorang kawan lama. Kawan yang sudah terlalu lama tidak bertemu dan bertatap muka sejak 5-6 tahun lau, namun 1-2 x pernah saling menyapa di lini social media masing-masing. Definisi bahagia tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Jujur saya cukup kaget walaupun hal tersebut bukan berita baru. Bagaimana tidak, sebuah ekspektasi betul-betul sangat mempengaruhi cara pandang seseorang dalam merespons suatu informasi. Semoga pilihan yang telah ditetapkan, terpatri kuat dan menjadi pondasi yang tetap berdiri kokoh.

Selamat berbahagia

BEEA36B8-2485-4FFF-ACAC-1083DBBA93D6

picsources : 88 LOVELIFE by Diana Rikasari

 

 

REFLECTION : AGAMA ADALAH HAKIM

Sudah cukup lama saya mengikuti tulisan-tulisan dari Mas Kurniawan Gunadi (http://kurniawangunadi.com/). Sejak ramai di tumblr, saya cukup sering membaca artikel dan tulisannya. Saat tumblr di blokir oleh Kominfo, saya sesekali menongok laman instagramnya, hingga menemukan tulisan-tulisannya sudah tersedia pada laman website pribadinya.  Agama merupakan salah satu topik yang sangat sensitif. Berikut salah satu artikel dari website beliau yang cukup membuat saya tersentil, tidak hanya dalam masalah pencarian penyempurna separuh agama saja, jauh lebih luas dari itu, dalam pertemanan, persahabatan, persaudaraan, serta belajar bagaimana layaknya seorang manusia harus bersikap, tidak hanya habluminallah semata, tetapi juga kepada sesamanya. Semoga bisa menjadi reminder.

AGAMA ADALAH HAKIM

Diskusi-diskusi dengan teman selalu menghasilkan banyak pemahaman baru yang menarik. Tidak untuk dibenar-benarkan dan menjadi prinsip yang kemudian juga saya anut. Namun, saya menjadi belajar bahwa perjalanan hidup manusia yang berbeda-beda telah membuat cara berpikir seseorang dengan yang lain juga berbeda. Untuk satu masalah yang sama pun, seseorang memiliki cara pandang yang berbeda. Dan kali ini akan sangat disayangkan jika tidak saya tulis.

Agama adalah hakim, hakim dalam hal apa?

Di tengah usia 20+ dimana kita disajikan oleh berita akad nikah teman yang mirip jadwal shalat jumatan, seminggu sekali. Dimana ketika ada seseorang yang datang yang bahkan kita tidak tahu siapa dan bagaimana. Dimana ketika kita dibuat bertanya-tanya tentang seseorang yang hadir dipikiran. Maka jadikanlah agama sebagai hakim.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan beragama seseorang yang sebenar-benarnya saat ini. Hanya mendengar berita atau memperhatikan caranya berpakaian. Selebihnya kita tidak akan tahu jika kita tidak benar-benar mengenal kesehariannya. Karena agama bukanlah sekedar ibadah ritual; banyaknya hafalan, hitamnya jidat, panjangnya jenggot, lebarnya kerudung. Tidak seeksplisit itu. Agama itu ada di dalam hati, melebur hingga menjadi satu kesatuan dalam diri manusia. Menjadi cara berpikir, cara berbicara, cara berperilaku, semunya termanifestasi menjadi perilaku keseharian.

Kita tidak akan benar-benar tahu kehidupan beragama seseorang dan berapa derajat keimanannya di mata Allah. Lalu bagaimana kita bisa menerima seseorang yang datang tiba-tiba dalam hidup kita? Apalagi bila dia adalah orang yang sama sekali belum kita kenal baik kehidupannya?

Sementara Nabi mengatakan bahwa seseorang (menurutku ini berlaku tidak hanya untuk perempuan) dinikahi karena 4 hal; harta, keturunan, paras, dan agama. Dan dianjurkan memilih agamanya.

Lalu saya bertanya, “Kalau kita bisa mendapatkan keempatnya, mengapa hanya salah satu atau mendapatkan 3 dari 4 kriteria itu? Tidak salah dan tidak berdosa juga kan kita berharap dapat seseorang yang baik agamanya sekaligus cantik/tampan, berketurunan baik, dan kaya?”

Teman saya tersenyum. Di sinilah jawaban itu muncul.

“Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, seluruh pemahaman itu akan melebur menjadi dirinya. Ingat bahwa Nabi Muhammad akhlaknya adalah Al Quran kan? Kita dan sesorang yang datang itu bukan Nabi, tapi kita bisa mencontohnya. Seseorang saat ini tidak lagi bisa dinilai dari luarannya saja. Lihatlah bagaimana cara dia berbicara, berperilaku, uji pemikirannya dengan pertanyaan kritis dan masalah, uji kesabarannya dengan amarah. Kita boleh banget berdoa untuk memiliki pendamping yang memiliki paras yang baik, kaya, juga berketurunan, tidak ada yang salah. Yang perlu kita pegang adalah jadikan agama sebagai hakimnya.”

Saya masih menyimak pembicaraan ini.

“Maksudnya agama sebagai hakim?”

“Kita tidak akan bisa menilai agama seseorang saja dan mengesampingkan yang lain. Hanya karena dia terlihat beragama; rajin shalat, jidat hitam, kerudung panjang, hafalan seabrek. Tapi bicaranya kasar, pemikirannya tertutup, bahkan perilakunya bertentangan dengan tampilan luarnya. Buat apa?”

“Carilah seseorang dengan karakter yang baik, baru kamu lihat agamanya. Kamu hanya perlu ridha dengan agamanya sebagaimana apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Artinya kamu cukup ridha bila dia hanya baru shalat wajib dan dhuha, belum banyak hafalannya, belum rajin puasa sunah, kerudungnya belum panjang atau bahkan mungkin belum mengenakan, dll. Karakter baik itu penting dan abadi berada dalam diri manusia. Karena karakter itu tidak dibentuk oleh pelajaran-pelajaran teori.”

“Karena pemahaman agama itu benar-benar menjadi agama ketika terwujudkan menjadi seluruh cara hidup seseorang. Selebihnya dapat dipelajari perlahan. Al Quran saja diturunkan dalam jangka bertahun-tahun, pelan-pelan tidak langsung sekaligus. Seseorang tidak akan menjadi sangat alim, sangat soleh atau solehah dalam hitungan pendek. Semua adalah proses dan itu proses bersama kalian nantinya. Untuk menjaga proses itu berjalan dengan baik, kamu membutuhkan seseorang dengan karakter yang baik”

Saya mencatatnya.

“Jadikanlah agama sebagai hakim, bila dia cukup baik dan cukup memenuhi kriteria mubah/sunah yang kamu buat (misal bisa masak, cantik/tampan, penyayang anak-anak, dll) baru kamu lihat agamanya. Kalau kamu ridha, kamu sudah tahu jawabannya. Bila agamanya tidak baik, percuma kan karakter baik tapi kehidupan beragamanya kamu gak ridha, putuskanlah. Karena hidupnya tidak akan berakhir di dunia saja, masih ada kehidupan setelahnya dan kamu membutuhkan itu.”

Teman saya selesai menjawab. Saya mencatatnya, membaca ulang kesimpulannya.

“Agama adalah hakim untuk menerima atau menolak seseorang dan hakim selalu memutuskan setelah melihat semua komponen yang lain terlebih dahulu”

Bandung, 28 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi

JAPAN SKINCARE HAUL

Jepang termasuk salah satu negara di Asia dengan pemilik kulit terflawless with no effort menurutku. Saat ada kesempatan kesana, jelas salah satu checklistnya adalah berburu skincare dan makeup.. Selama disana, must visit place untuk belanja skincare ya di Matsumoto Kiyoshi, dan Aienz & Tulpe. Matsumoto Kiyoshi itu semacam Guardian atau Watsonsnya Jepang, jadi bisa dipastikan banyak tersebar di berbagai tempat. Ga cuma berpusat di Tokyo aja, tapi juga dikota-kota lain. Kalo Aienz & Tulpe berlokasi di Tokyo, tepatnya di Shinjuku dan Shibuya. Di Tokyo juga sempat mampir ke Lush, Shinjuku. And another beauty store yang ndak boleh dilewatkan yaitu Muji. Harga skincare Muji Indonesia dengan Muji Jepang lumayan banget bedanya.  Toko serba 100 yen macam Daiso pun juga jual berbagai makeup dan skincare product, dan must buy nya di Daiso yaitu Daiso brush cleaner. Satu lagi tempat belanja yang gabisa dilewatkan begitu sajaa yaitu di airport. Di Haneda airport, duty freenya lumayan lengkap, ga hanya merk lokal Jepang, semacam SKII, Kanebo, Anessa, Kose, Shiseido, Yojiya, Lululun, etc; tapi juga banyak western beauty product seperti yg biasa ditemui di airport-airport lainnya. Pokoknya lengkap banget deh, 11-12 sama Shilla Duty Free-nya Changi lah.

Pas disana ga terlalu banyak kesempatan untuk belanja karena kendala bahasa, mostly keterangan diproduknya berhuruf kanji, akhirnya berbekal hasil riset (cielah) produk-produk reccomended (ramah dikantong mahasiswa) berpindah tempatlah barang-barang ini ke tanganku 🙂 Fokusku lebih ke skincare, macam sheet mask (Jepang surganya sheet mask, not just info Face mask, but also, Hand mask, Eye mask, until Foot mask), Hada Labo premium, Senka White Perfect Clay (waktu itu belum masuk di Indo), Shiseido powder, Muji cleansing oil, etc.

A3D3C212-344C-4CC0-BD59-A6878830E613809F2A16-BB01-4A81-A90B-183FBDB4A8B06517dd0a-1db6-4925-b3a6-7284ffe7d692-e1531059691693.jpeg

Currently reading

1. Ke Raudhah, Aku ‘kan Kembali by Sari Meutia54BDD301-48A5-4EFC-AC56-D1F001044163

2.  Career First, Melangkah Pasti Ke Dunia Kerja by Maya Arvini0AAA1602-4BCD-41B0-AC37-1B1CE707DB8C

3. Survival Kit For 20 Something by Disfira Ika & Pradnya Wardhani

C04E33FC-8412-42D8-89C1-C4D4E7854E68.jpegDitengah setumpukan DSM, PPDGJ dan Kaplan yang masih menanti untuk dibaca 😛

JAPAN 🇯🇵 travel story: An Introduction

Long Time No See in cerita yang agak panjang (?) yaa seperti itu sih intinya… Setelah beberapa saat bingung mencari topik dan bahasan untuk mengisi content, akhirnya buka file-file lama dan menemukan suatu bahasan.
Sekitar 5 bulan lalu, tepatnya di awal Maret 2018, saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Negeri Kimigayo a.k.a Negeri Matahari Terbit. Yup, Jepang.
Flashback sedikit, ke bulan Agustus 2017, selesai masa belajar saya di stase Obsgyn, saya menyempatkan pulang ke rumah, berangkat dari Purwokerto di hari Sabtu malam, sampai Jakarta di Minggu pagi, dan kembali lagi ke Purwokerto Minggu malamnya. Less than 24 hours. Impulsif sekali memang. Saya merasa butuh pulang setelah 10 minggu bergumul dengan stase mayor pertama saya. Itu tujuan kedua saya sebetulnya. Karena tuhuan utamanya adalaah saya mengejar untuk datang ke SQ Travel Fair 2017 di Gandaria City 🙂 Hari itu saya pulang dengan membawa 4 tiket Jakarta – Kansai dan Tokyo Haneda – Jakarta via Changi. As a First Timer, kami berencana mengunjungi 3 kota yang katanya ‘must visit’ for the first timer, yaitu Osaka, Kyoto, dan Tokyo. Kami sekelurga biasanya pergi berlima dengan formasi lengkap, namun kali ini adik laki-laki saya tidak dapat ikut pergi bersama karena pendidikan yang masih dijalaninya.
Wah ternyata intronya sudah cukup panjang…
Perjalanan ini dilakukan mandiri, atau tanpa bantuan travel planner atau tour agency, karena sayalah yang didapuk oleh orangtua sebagai travel plannernya..hehee.
Sebetulnya saya tidak terlalu tertarik dengan Jepang. Entah mengapa dimata saya awalnya Jepang itu suatu Negara yang kaku. Alasan kami memilih Jepang bisa dibilang cukup dangkal, karena saya sudah memiliki e-paspor, sehingga tidak membutuhkan visa untuk kunjungan ke Jepang. Pemilik e-paspor hanya memerlukan e-waiver yang bisa didapatkan di VFS, Lotte Shopping Avenue.
Oleh karena itu pertama kali yang dilakukan adalah mencari informasi mengenai pembuatan visa dan e-waiver. Tugas itu diamanatkan kepada adik saya. Sementara saya mulai browsing mengenai transportasi, akomodasi , dan lain sebagainya. Saya menyiapkan itinerary, membeli pass, ticket antar kota, serta atraksi-atraksi dan tempat wisata yang akan dikunjunggi serta mencari penginapan. Sampailah ke topik yang ingin di bahas : AKOMODASI.